resourceone.info Biography Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran Pdf

BUKU TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN PDF

Thursday, August 1, 2019


buku teori belajar dan pembelajaran [pdf]. book file pdf easily for everyone and every device. buku seminar - usd - 1 seminar nasional “sastra dan politik. Seminar Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran - [FREE] Seminar Buku Teori Belajar Dan. Pembelajaran [PDF] [EPUB] [Ebooks] Prosiding. buku teori belajar dan pembelajaran such as: essentials of the u s health care solution manual on intermediate accounting robles empleo file type pdf, jewish.


Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran Pdf

Author:MISSY DROGGITIS
Language:English, Spanish, French
Country:Cambodia
Genre:Lifestyle
Pages:491
Published (Last):14.03.2016
ISBN:787-7-33812-747-5
ePub File Size:23.32 MB
PDF File Size:10.41 MB
Distribution:Free* [*Regsitration Required]
Downloads:49692
Uploaded by: BARABARA

Seminar Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran buku seminar penafsiran utley - freebiblecommentary - 1 anda dapat memahami alkitab: sebuah pengantar. Seminar Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran Book. Mediafile Free File Sharing buku seminar penafsiran utley - freebiblecommentary - 1 anda dapat. Seminar Buku Teori Belajar Dan Pembelajaran Book. Mediafile Free File Sharing seminar buku teori belajar dan pembelajaran pdf - seminar buku teori belajar.

Oleh karena itu, siswa akan selalu memperoleh informasi yang terkini. Selain itu, siswa juga dapat tetap bekerja, tidak perlu kehilangan pekerjaan, sambil menyelesaikan studinya sesuai dengan kecepatan belajarnya dan waktu yang dimilikinya.

Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan Jerram menunjukkan bahwa siswa yang pendiam di kelas lebih sering merasa nyaman untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam diskusi yang dilakukan secara online. Di samping janji positif yang ditawarkan virtual learning, terdapat beberapa keterbatasan, di antaranya sebagai berikut: Masalah akses terhadap Internet, khususnya di daerah terpencil secara geografis dan masyarakat dengan tingkat sosial-ekonomi yang rendah.

Menuntut siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar. Dalam pembelajaran online yang asynchronous, balikan mungkin disampaikan setelah lebih dari satu jam atau bahkan berhari-hari. Tidak ada mekanisme yang mengontrol kualitas untuk meyakinkan bahwa informasi yang tersedia dalam Internet adalah akurat dan tanpa bias Simonson, dkk.

See a Problem?

Teknologi informasi tidak dapat menggantikan kehadiran pendidik dalam interaksi pembimbingan. Kondisi Untuk Menerapkan Virtual Learning Keberhasilan penerapan virtual learning dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Untuk dapat menerapkan virtual learning atau pembelajaran berbasis ICT, diperlukan kondisi-kondisi sebagai berikut. Dalam pembelajaran tatap muka, biasanya guru menyajikan semua materi pelajaran kepada siswa. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Dalam pembelajaran yang menerapakn ICT, guru dituntut untuk berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa.

Dengan melakukan virtual learning siswa memiliki akses informasi secara luas dengan memanfaatkan the world wide web www. Siswa dapat memperoleh apapun yang diinginkan, di mana pun diinginkannya, dan kapan pun menginginkannya to give what people want, where they want it, and when they want it — www. Hal ini tidak berlaku dalam sistem pembelajaran yang menerapkan konsep virtual learning.

Perancang pembelajaran akan merancang penyajian materi dan ahli teknisi akan mengembangkan materi dalam bentuk online. Guru akan berhadapan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara online. Karena guru tidak terlalu banyak terlibat dalam pengembangan bahan belajar, waktu yang dimiliki guru digunakan untuk berinteraksi dengan siswa yang belajar secara individual. Dalam penerapan virtual learning, siswa dituntut untuk belajar mandiri.

Untuk membantu siswa berhasil dalam belajar mandiri, lembaga penyelenggara pendidikan hendaknya menyediakan layanan siswa. Layanan tersebut dapat dilakukan oleh unit internal dalam lembaga yang bersangkutan atau pihak luar.

Print Version

Kelima faktor tersebut adalah visi dan perencanaan, kurikulum, pelatihan dan dukungan staf, layanan siswa, pelatihan dan dukungan siswa, serta hak cipta dan kepemilikan intelektual. Untuk itu, siswa diharapkan memiliki keterampilan kognitif tinggi seperti negosiasi makna, belajar sepanjang hayat, analisis refleksi, dan meta kognisi.

NICLS merupakan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa agar berhasil dalam belajar dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Keterampilan CMC berkaitan dengan interaksi siswa dengan masyarakat belajar.

Sementara itu, keterampilan informasi berkaitan dengan masalah kecemasan informasi dan beban kerja yang berlebih, serta akses terhadap sumber belajar. Mencari dan menemukan kembali informasi Keterampilan ini berkaitan dengan keterampilan siswa dalam mengeksplorasi dan menemukan informasi yang tersedia dalam Internet atau Intranet.

Menilai sumber informasi dalam Internet Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan siswa mengevaluasi secara kritis sumber informasi dan mengaitkan informasi yang dipilih dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Social roles Peran ini menuntut tutor untuk mengembangkan lingkungan belajar yang bersahabat dan menyenangkan sehingga siswa merasa yakin bahwa mereka dapat menguasai pengetahuan.

Technical roles Dalam menjalankan peran ini, tutor dituntut untuk mengenal, nyaman, dan menguasai sitem dan perangkat lunak TIK yang membentuk lingkungan belajar online.

Pertama, dispositional problems, yaitu masalah yang mengacu pada pribadi mahasiswa, seperti sikap, rasa percaya diri, dan gaya belajar.

Kedua, circumstantial problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan kondisi khusus seperti lokasi geografis, ketersediaan waktu, dan sebagainya.

Ketiga, technical problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan hardware dan program software yang digunakan dalam belajar online. Penggunaan teori pembelajaran yang tepat Teori Belajar Konstruktivisme Teori pembelajaran konstruktivis constructivist theories of learning ini menyata-kan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.

Peserta didik harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Dengan demikian peserta didik yang berkemampuan tinggi dapat lebih cepat menuntaskan pembela-jarannya, sedangkan peserta didik berkemampuan rendah atau yang lambat belajar-nya dapat mengulangi pembelajaran sampai mencapai kriteria ketuntasan tanpa teri-kat dengan waktu dan tempat.

Teorinya di-dasarkan pada asumsi bahwa: 1 individu mempunyai kemampuan memroses informasi; 2 kemampuan memroses informasi tergantung kepada faktor kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya; 3 belajar adalah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi; 4 hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif; 5 cara belajar pada anak-anak dan orang dewasa berbeda sesuai tahap perkembangannya.

Model pemrosesan informasi ini menjelas-kan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Peristiwa-peristiwa mental diuraikan sebagai transformasi informasi dari input stimulus ke output respons.

Eksperimen puzzle box ini kemudian terkenal dengan namainstrumental conditioning. Artinya, tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumental penolong untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki.

You might also like: KODANSHAS HIRAGANA WORKBOOK PDF

Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon.

Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.

distance vs time graph worksheet answers

Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.

Teori Thorndike ini disebut pula dengan Slavin, Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan. Apabila kita perhatikan secara seksama dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati 2 hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar Eksperimen — Eksperimen Thorndike Pada mulanya, model eksperimen Thorndike yaitu dengan mempergunakan kucing sebagai subjek dalam eksperimennya.

Dengan konstruksi pintu kurungan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu, maka pintu kurungan akan terbuka dan akhirnya kucing dapat keluar dan mancapai makanan daging yang ditempatkan di luar kurungan sebagai hadiah atau daya penarik bagi kucing yang lapar tersebut.

Pertama, keadaan kucing yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu tidak akan berusaha keras untuk keluar.

Bahkan, barangkali ia akan tidur saja dalam puzzle box yang mengurungnya.

Dengan kata lain, kucing itu tidak akan menampakkan gejala belajar untuk keluar. Sehubung dengan hal ini, hampir dapat dipastikan bahwa motivasi seperti rasa lapar merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, tersedianya makanan di muka pintu puzzle box, merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respon dan kemudian menjadi dasar timbulnya hukum belajar yang disebut law of effect.

Artinya, jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan mengganggu efek yang dicapai respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respon tersebut.

Percobaan yang dilakukan berulang-ulang maka akan terlihat beberapa perubahan yaitu: Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.

Ciri-ciri belajar dengan trial and error: Ada motif pendorong aktivitas 2. Ada berbagai respon terhadap situasi 3. Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. Teori belajar koneksionisme ini ada juga keberatan-keberatannya antara lain: Belajar menurut teori ini bersifat mekanistis. Latihan-latihan ujian banyak berdasarkan pendirian ini. Pelajaran bersifat teacher-centered. Yang terutama aktif adalah guru.

Dialah yang melatih anak-anak dan yang menentukan apa yang harus diketahui oleh anak-anak. Anak-anak pasif artinya kurang didorong untuk aktif berfikir, tak turut menentukan bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.

Teori ini membutuhkan pembentukan meteril, yaknimenumpuk pengetahuan, dank arena itu sering menjadi intelektualis.

Pengetahuan dianggap berkuasa.

Kemudian menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari seara ilmiah. Praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Ada beberapa aturan yang di buat Thorndike berkenaan dengan pengajaran, yaitu: Perhatikan situasi murid 2. Perhatikan respon apa yang diharapkan dari respon tersebut 3. Ciptakan hubungan respon tersebut dengan sengaja, jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya 4.

Situasi — situasi lain yang sama jangan diindahkan sekiranya dapat memutuskan hubungan tersebut 5. Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubungan — hubungan lain yang sejenis 6. Buat hubungan tersebut sedemikian rupa hingga dapat perbuatan nyata 7. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari — hari C. Hukum-Hukum yang digunakan Edward Lee Thorndike Adapun dari hasil percobaan Thorndike maka dikenal 3 hukum pokok, yaitu: Hukum Latihan Law or Exercise Hukum ini mengandung 2 hal yaitu: The Law Of Use, yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi kuat bila sering digunakan.

Dengan kata lain bahwa hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi kuat semata-mata karena adanya latihan. The Law of Disuse, yaitu suatu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi lemah bila tidak ada latihan. Prinsip ini menunjukkan bahwa ulangan merupakan hak yang pertama dalam belajar. Pada prakteknya tentu diperlukan berbagai variasi, bukan ulangan sembarang ulangan.

Dan pengaturan waktu distribusi frekuensi ulangan dapat menentukan hasil belajar. Hukum Akibat Law of Effect Hukum ini juga berisikan 2 hal, yaitu: Hal ini menunjukkan bagaimana pengaruh hasil perbuatan bagi perbuatan itu sendiri. Dalam pendidikan, hukum ini diaplikasikan dalam bentuk hadiah dan hukuman. Hadiah menyebabkan orang cenderung ingin melakukan lagi perbuatan yang menghasilkan hadiah tadi, sebaliknya hukuman cenderung menyebabkan seseorang menghentikan perbuatan, atau tidak mengulangi perbuatan.

Hukum Kesiapan The law of readiness Hukum ini menjelaskan tentang kesiapan individu dalam melakukan sesuatu. Yang dimaksud dengan kesiapan adalah kecenderungan untuk bertindak.

Agar proses belajar mencapai hasil yang sebaik-baiknya, maka diperlukan adanya kesiapan organisme yang bersangkutan untuk melakukan belajar tersebut. Ada 3 keadaan yang menunjukkan berlakunya hukum ini.

Bila pada organisme adanya kesiapan untuk bertindak atau berprilaku, dan bila organisme itu dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kepuasan. Bila pada organisme ada kesiapan organisme untuk bertindak atau berperilaku, dan organisme tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kekecewaan.

Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu dipaksa untuk melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.

Carlos A.

Education for Sustainability: Challenges and Trends. Journal Science and Education. Vol 18 hal Munck.

Teori-teori belajar & pembelajaran / Ratna Wilis Dahar

Journal of Elementary Science Education, Vol. Education University of Yokya.

Meilinda, Tibrani,M. Bandung Nurjhani, Jurnal Pendidikan UPI. Ecological education: What resources are there in Confucian ethics? Journal Environmental Education Research, 14 2 , Journal Environmentalist 30 — Penttinen. R, Minkkinen S.Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error.

Biografi Edward Lee Thorndike Edward Lee Thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis, namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika.

Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Journal Environmentalist 30 — Penttinen.

Belajar Dan Pembelajaran — Teori Belajar Thorndike11 To get password just mention me on twitter nicuapz or leave comment on my blog.